Suara Online adalah Suara Tuhan
Bila dulu adagium suara rakyat suara tuhan (vox populi vox dei) kerap berkumandang setiap aksi jalanan rakyat muncul, kini ungkapan tersebut sedikit berubah menjadi “suara online suara Tuhan”.
Tembusnya target angka 1 juta facebooker mendukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto pada hari ke-9, (7/11) menjadi catatan tersendiri dalam sejarah komunikasi politik online Indonesia. Untuk pertama kalinya, terjadi gerakan online yang disambut secara gegap gempita oleh rakyat Indonesia pengguna internet.
Sebelumnya, belum pernah ada gerakan semassif dan sefenomenal ini. Sepengetahuan saya belum pernah ada juga halaman facebook yang sampai mampu menembus angka 1 juta pendukung hanya dalam 9 hari. Untuk halaman penggemar presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono di Facebook saja baru memiliki sekitar 365.848 pendukung. Jumlah penggemar itu pun baru didapatkan setelah berbulan-bulan.
Jumlah pendukung Bibit-Chandra itu juga masih lebih besar dibandingkan penggemar artis Jennifer Lopez di Facebook yang mencapai 989.775 orang atau fans Manchester United di Facebook yang jumlahnya hanya sekitar 965.350 orang. Jumlah satu juta itu jelas juga sama sekali tidak dapat disandingkan dengan halaman facebook Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri yang baru memiliki 7.596 fans.
Apakah ini menunjukkan kembalinya sikap partisipasi politik rakyat? Atau sekadar euforia para pengguna internet dalam merayakan kebebasan berpendapat via internet—di tengah saluran aspirasi lewat parlemen yang konon tersumbat?
Sebelum terlalu jauh membahasnya, saya ingin menegaskan beberapa poin penting dari peristiwa fenomenal ini. Pertama, masyarakat memiliki keinginan untuk (harus) berpartisipasi dalam peristiwa yang sedang terjadi. Masyarakat bukan lagi seperti patung yang hanya diposisikan untuk berdiam diri. Namun mereka pun ingin berpartisipasi dalam perkembangan sosial-politik yang terjadi. Mereka punya aspirasi yang ingin disuarakan langsung.
Tentu, hal ini sangat menggembirakan. Terlebih bila melihat tren golput yang makin mengkhawatirkan dalam pemilu beberapa waktu lalu. Atau dalam bingkai lebih umum tingkat partisipasi publik kita sering dikatakan masih rendah. Banyak anggapan kalau masyarakat kita kian apatis terhadap perjalanan Republik ini.
Namun nyatanya tidak. Rakyat ikut berpartisipasi dan mengontrol jalannya Republik ini. Tercapainya target 1 juta Facebooker mendukung Bibit-Chandra adalah sedikit buktinya. Rakyat tidak tinggal diam ketika rasa keadilan publik terkoyak. Tingkat partisipasi publik secara online ini diyakini juga akan semakin meningkat dalam kehidupan riil masyarakat.
Partisipasi Publik
Internet masa kini ditopang oleh model web 2.0. Yaitu model web yang mengajak para penggunanya untuk ikut berpartisipasi. Dari model social networking macam Facebook, My Space, Friendster sampai wiki dan blog. Semua jenis situs web bermodel web 2.0 tersebut yang kini banyak disukai pengguna internet. Web 2.0 memberi keleluasaan bagi pengguna berpartisipasi. Tidak sekedar menjadi pengguna yang hanya menikmati konten yang disediakan oleh suatu situs web. Namun pengguna ikut berperan dan berkontribusi. Ciri Web 2.0 yang tidak menafikan pengguna (dan malah merangkul pengguna) dapat menjadi pendorong bagi terciptanya iklim partisipasi publik yang kondusif.
Poin penting kedua adalah gerakan kampanye via internet di Indonesia tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Sekalipun mungkin jumlah pengguna internet yang masih terbatas (sekitar 25 juta orang), namun dari sisi pengguna mereka adalah pihak yang berada di level menengah ke atas. Artinya mereka ini yang termasuk memiliki tingkat pendidikan dan kesejahteraan yang relative baik. Sehingga berbekal pendidikan yang baik tersebut, diasumsikan mereka juga memiliki kadar kekritisan yang relative baik.
Kekritisan yang dimiliki pengguna internet ini penting sebab diharapkan dapat menjadi modal bagi penggerak partisipasi publik, khususnya via internet. Seperti yang dilakukan oleh Usman Yasin, dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu, yang membuat halaman pendukung Bibit-Chandra tersebut pada hari yang sama ketika Bibit dan Chandra mulai ditahan polisi.
Kemenangan psikologis
Tercapainya angka satu juta facebooker dukung Bibit-Chandra, bahkan terakhir kali penulis mengecek halaman facebook “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto” pada minggu (8/11) pukul 17.30, jumlah anggotanya mencapai 1.103.991, terdapat satu makna mendalam. Terlampauinya angka satu juta pendukung Bibit-Chandra dapat dikatakan sebagai kemenangan psikologis. Kemenangan bahwa suara rakyat tak akan pernah tumbang dan apa yang dicita-citakan rakyat pasti tercapai. Dukungan yang besar semacam ini juga merefleksikan besarnya dukungan rakyat untuk penegakan keadilan dan pemberantasan korupsi di negeri ini.
Dukungan via internet kini tidak dapat lagi dianggap sebagai angin lalu. Dukungan yang diberikan via internet merupakan bentuk dukungan yang benar-benar nyata. Hal ini seperti yang juga telah dibuktikan oleh Barack Obama yang memenangi pemilihan presiden di Amerika Serikat. Halaman penggemar Barack Obama di Facebook sampai sekarang mampu mengumpulkan 6,9 juta orang.
Kekuatan online semacam ini mendatang akan makin menunjukkan taringnya. Peranan golongan menengah sebagai pendorong dan penjaga demokrasi akan semakin berkibar. Hal ini tentu membawa angin segar bagi iklim demokrasi kita.
Sebab benar, suara online adalah suara Tuhan. Lewat internet, rakyat kini meneriakkan kebenaran…