<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jarikata.net</title>
	<atom:link href="http://www.jarikata.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jarikata.net</link>
	<description>Konsultan Komunikasi dan Marketing Online</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Dec 2009 17:55:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cakap-cakap bukan Cuap-Cuap</title>
		<link>http://www.jarikata.net/2009/12/04/cakap-cakap-bukan-cuap-cuap/</link>
		<comments>http://www.jarikata.net/2009/12/04/cakap-cakap-bukan-cuap-cuap/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 17:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing Online]]></category>
		<category><![CDATA[Bloggers @ MarkPlus Conference 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jarikata.net/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Bah! Pasti sambel petis kamu nomer satu kan?!!&#8221; 
Itu kalimat yang terngiang-ngiang di kepala setiap melihat promosi gaya legacy yang masih bertebaran di mana-mana sekarang ini.
Cuap-cuap adalah ngomong seenaknya sendiri. Tanpa mempedulikan lawan bicara, tanpa minta ijin, tanpa respek, kalau perlu dengan cara &#8220;memaksa&#8221; bahkan &#8220;menodong&#8221;.
Marketing gaya cuap-cuap ya sama saja artinya. Tanpa ampun memberondong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#8220;Bah! Pasti sambel petis kamu nomer satu kan?!!&#8221; </strong><br />
<em>Itu kalimat yang terngiang-ngiang di kepala setiap melihat promosi gaya legacy yang masih bertebaran di mana-mana sekarang ini.</em></p>
<p>Cuap-cuap adalah ngomong seenaknya sendiri. Tanpa mempedulikan lawan bicara, tanpa minta ijin, tanpa respek, kalau perlu dengan cara &#8220;memaksa&#8221; bahkan &#8220;menodong&#8221;.</p>
<p>Marketing gaya cuap-cuap ya sama saja artinya. Tanpa ampun memberondong konsumen dengan macam-macam<br />
pesan promosi yang bikin eneg bahkan antipati dan alergi.</p>
<p><em>&#8220;Lama sekali iklannya sih&#8230;!!!&#8221;</em> protes seorang kawan yang menyaksikan Take Me Out sambil kembali memencet remote memindahkan saluran televisi. Atau<em> &#8220;yah&#8230;. iklan lagi!!!&#8221;</em></p>
<p>Ada yang pernah merasakan hal serupa?</p>
<p><span id="more-223"></span>Saya pun dulu waktu masih sering nonton tv iya. Jadi ilfil gara-gara scene acara dipotong seenaknya dan digantikan dengan antrian iklan yang panjangnya kayak gerbong kereta. Tapi sekarang &#8220;teriakan&#8221; semacam itu berkurang karena saya jarang nonton teve. <img src='http://www.jarikata.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tidak efektifnya marketing cuap-cuap yang sudah sampai waktu kematiannya itu dideskripsikan secara apik oleh pakar marketing Hermawan Kertajaya dan Waizly Darwin dalam rubrik New Wave Marketing di Kompas yang judulnya <a title="Berbincang Ketimbang Promosi" href="http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/20/16380879/berbincang.ketimbang.promosi" target="_blank">Berbincang Ketimbang Promosi</a>.</p>
<blockquote><p>Konsumen tidak sendirian ketika mereka menghindari bentuk promosi dari pemasar. Kita pun sebagai pemasar ketika melepaskan ‘topi’ kita sebagai pemasar, dan pulang ke rumah setelah bekerja di kantor, sebisa mungkin untuk ‘meloloskan diri’ dari jebakan pemasar lain yang berpromosi lewat berbagai media.</p></blockquote>
<p>Bahkan pemasar sekalipun sudah &#8220;muak&#8221; dengan apa yang dilakukannya selama ini. Logika paling sederhananya, kalau pembuatnya saja sudah muak apalagi konsumennya. <img src='http://www.jarikata.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Cuap-cuap bukan cakap-cakap</strong><br />
Satu yang saya ingin tekankan dari tulisan ini adalah ketika sudah bertransformasi ke marketing era New Wave tidak sampai kemudian ada kesalahan konsep. Khawatirnya kalau yang dikiranya sebagai conversation ibarat percakapan antara seorang guru dengan muridnya.</p>
<p>Maka benar seperti ditegaskan Pak Hermawan, untuk menciptakan conversation atau cakap-cakap itu, diperlukan kesejajaran posisi antara pemasar dan konsumen. Kalau bahasa pepatahnya &#8220;berdiri sama tinggi, lesehan sama rendah&#8230;&#8221; <img src='http://www.jarikata.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi kesejajaran saja tidak cukup. Satu lagi yang ingin saya tambahkan untuk menciptakan cakap-cakap yang sempurna. Selain dibutuhkan kesejajaran dimana tidak ada salah satu yang mendominasi, diperlukan pula adanya rasa kedekatan atau jenjang optimalnya adalah rasa kekeluargaan. Sebab puncak keintiman sebuah percakapan itu terjadi ketika sudah berada dalam balutan rasa kekeluargaan.</p>
<p>Ketika chemistry kekeluargaan sudah terjalin antara pemasar dan konsumen pastilah gayeng hasilnya. Kapanpun pemasar ingin menyampaikan pesan-pesan marketingnya akan disambut terbuka oleh konsumen. Hangat tanpa ada sekat.</p>
<p>Tapi sebaliknya, kalau masih ada yang enggan berubah, tohokan di awal tulisan ini pantas diucapkan bagi mereka yang memilih promosi seperti tukang obat di pasar yang nyerocos dan cuap-cuap seenaknya sendiri. <img src='http://www.jarikata.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jarikata.net/2009/12/04/cakap-cakap-bukan-cuap-cuap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Deal dari Kebun</title>
		<link>http://www.jarikata.net/2009/11/30/deal-dari-kebun/</link>
		<comments>http://www.jarikata.net/2009/11/30/deal-dari-kebun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 17:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jarikata.net/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Saat berkunjung ke kediaman seseorang beberapa hari lalu, tiba-tiba handphone berbunyi. &#8220;Nomer yang asing&#8221; pikir saya. Asing bukan hanya karena baru kali ini saya lihat, tapi juga karena urutan nomernya bukan nomer telepon dalam negeri.
Segera saya angkat, suara cewek yang tidak jelas terdengar di ujung sana. Dari tempat duduk saya bangkit mencoba mencari sinyal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat berkunjung ke kediaman seseorang beberapa hari lalu, tiba-tiba handphone berbunyi. &#8220;Nomer yang asing&#8221; pikir saya. Asing bukan hanya karena baru kali ini saya lihat, tapi juga karena urutan nomernya bukan nomer telepon dalam negeri.</p>
<p>Segera saya angkat, suara cewek yang tidak jelas terdengar di ujung sana. Dari tempat duduk saya bangkit mencoba mencari sinyal yang lebih baik. Sayang masih belum jelas juga. Si cewek di ujung sana masih nyerocos saja dengan bahasa Inggris. Karena tak terdengar baik, saya katakan kalau saya tak bisa menangkap suaranya. Telepon di ujung sana lalu dimatikan.</p>
<p>Saya masih mengira-ngira siapa yang menelpon. Masih dalam kebingungan, tak berapa lama, handphone kembali berbunyi. Dari nomer yang sama. Saya coba angkat, sambil jalan ke halaman depan rumah. Suara di ujung sana masih samar-samar. lalu tut&#8230;tut&#8230;tut. Suara dari seberang kembali tak terdengar.</p>
<p>Semakin penasaran saya. Siapa dia?</p>
<p><span id="more-218"></span>Sembari kembali duduk, saya coba buka laptop. Cek email. Ada email yang baru masuk. Isinya, pengirim email bilang kalau sulit menghubunginya dan mengajak berkomunikasi via Skype.</p>
<p>&#8220;Oalah&#8230; dia toh yang telpon,&#8221; rasa penasaran pun sirna.</p>
<p>Sayangnya saya tak bawa headset. Maka, saya balas email itu kalau sinyal telepon sedang buruk dan memintanya untuk menghubungi beberapa saat lagi via telepon kembali.</p>
<p>Setelah email terkirim, saya menyisir sekitar untuk mencari sinyal terbaik. Akhirnya handphone menangkap sinyal terbaik di samping rumah yang tak lain merupakan kebun.</p>
<p>Benar saja tidak berapa handphone kembali berdering. Kali ini dengan suara yang mending jelas daripada sebelumnya. Dia memperkenalkan diri, menjelaskan keperluannya, dan menanyakan beberapa hal. Setelah percakapan sekitar 10 menitan berujung pada satu kesimpulan: DEAL!</p>
<p>&#8230;&#8230;.</p>
<p><em>Dari siapa? Ngomongin apa? Order apa? </em></p>
<p>Maaf tak bisa saya ceritakan detil di sini. Sebab kerahasiaan klien <strong>JariKataNet</strong> selalu saya jamin. <img src='http://www.jarikata.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi yang jelas lumayan. Untuk order yang tidak begitu berat dan bisa selesai beberapa hari itu, isi dompet bertambah beberapa ratus dollar.</p>
<p>Namun satu hal yang sampai sekarang sering membuat saya ngekek sendiri, yaitu deal bisnis yang terjadi di kebun. hehehe..</p>
<p>Masih tak habis pikir bisnis apa yang bisa deal tanpa harus pakai dasi, jas dan sepatu mengkilap,  kecuali di internet. Betapa luar biasanya internet bukan? <img src='http://www.jarikata.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jarikata.net/2009/11/30/deal-dari-kebun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suara Online adalah Suara Tuhan</title>
		<link>http://www.jarikata.net/2009/11/08/suara-online-adalah-suara-tuhan/</link>
		<comments>http://www.jarikata.net/2009/11/08/suara-online-adalah-suara-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 23:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Online]]></category>
		<category><![CDATA[cicak vs buaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jarikata.net/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Bila dulu adagium suara rakyat suara tuhan (vox populi vox dei) kerap berkumandang setiap aksi jalanan rakyat muncul, kini ungkapan tersebut sedikit berubah menjadi “suara online suara Tuhan”.
Tembusnya target angka 1 juta facebooker mendukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto pada hari ke-9, (7/11) menjadi catatan tersendiri dalam sejarah komunikasi politik online Indonesia. Untuk pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-207" title="gambar cicak vs buaya" src="http://www.jarikata.net/wp-content/uploads/2009/11/gambar-cicak-vs-buaya.jpg" alt="gambar cicak vs buaya" width="125" height="216" />Bila dulu adagium suara rakyat suara tuhan (vox populi vox dei) kerap berkumandang setiap aksi jalanan rakyat muncul, kini ungkapan tersebut sedikit berubah menjadi “suara online suara Tuhan”.</p>
<p>Tembusnya target angka 1 juta facebooker mendukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto pada hari ke-9, (7/11) menjadi catatan tersendiri dalam sejarah <strong>komunikasi politik online</strong> Indonesia. Untuk pertama kalinya, terjadi <span style="text-decoration: underline;">gerakan online</span> yang disambut secara gegap gempita oleh rakyat Indonesia pengguna internet.</p>
<p>Sebelumnya, belum pernah ada gerakan semassif dan sefenomenal ini. Sepengetahuan saya belum pernah ada juga halaman facebook yang sampai mampu menembus angka 1 juta pendukung hanya dalam 9 hari. Untuk halaman penggemar presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono di Facebook saja baru memiliki sekitar 365.848 pendukung.  Jumlah penggemar itu pun baru didapatkan setelah berbulan-bulan.</p>
<p><span id="more-206"></span>Jumlah pendukung Bibit-Chandra itu juga masih lebih besar dibandingkan penggemar artis Jennifer Lopez di Facebook yang mencapai 989.775 orang atau fans Manchester United  di Facebook yang jumlahnya hanya sekitar 965.350 orang. Jumlah satu juta itu jelas juga sama sekali tidak dapat disandingkan dengan halaman facebook Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri yang baru memiliki 7.596 fans.</p>
<p>Apakah ini menunjukkan kembalinya sikap partisipasi politik rakyat? Atau sekadar euforia para pengguna internet dalam merayakan kebebasan berpendapat via internet—di tengah saluran aspirasi lewat parlemen yang konon tersumbat?</p>
<p>Sebelum terlalu jauh membahasnya, saya ingin menegaskan beberapa poin penting dari peristiwa fenomenal ini. Pertama, masyarakat memiliki keinginan untuk (harus) berpartisipasi dalam peristiwa yang sedang terjadi. Masyarakat bukan lagi seperti patung yang hanya diposisikan untuk berdiam diri. Namun mereka pun ingin berpartisipasi dalam perkembangan sosial-politik yang terjadi. Mereka punya aspirasi yang ingin disuarakan langsung.</p>
<p>Tentu, hal ini sangat menggembirakan. Terlebih bila melihat tren golput yang makin mengkhawatirkan dalam pemilu beberapa waktu lalu. Atau dalam bingkai lebih umum tingkat partisipasi publik kita sering dikatakan masih rendah. Banyak anggapan kalau masyarakat kita kian apatis terhadap perjalanan Republik ini.</p>
<p>Namun nyatanya tidak. Rakyat ikut berpartisipasi dan mengontrol jalannya Republik ini. Tercapainya target 1 juta Facebooker mendukung  Bibit-Chandra adalah sedikit buktinya. Rakyat tidak tinggal diam ketika rasa keadilan publik terkoyak. Tingkat partisipasi publik secara online ini diyakini juga akan semakin meningkat dalam kehidupan riil masyarakat.</p>
<p><strong>Partisipasi Publik</strong><br />
Internet masa kini ditopang oleh model web 2.0. Yaitu model web yang mengajak para penggunanya untuk ikut berpartisipasi. Dari model social networking macam Facebook, My Space, Friendster sampai wiki dan blog. Semua jenis situs web bermodel web 2.0 tersebut yang kini banyak disukai pengguna internet. Web 2.0 memberi keleluasaan bagi pengguna berpartisipasi. Tidak sekedar menjadi pengguna yang hanya menikmati konten yang disediakan oleh suatu situs web. Namun pengguna ikut berperan dan berkontribusi. Ciri Web 2.0 yang tidak menafikan pengguna (dan malah merangkul pengguna) dapat menjadi pendorong bagi terciptanya iklim partisipasi publik yang kondusif.</p>
<p>Poin penting kedua adalah gerakan kampanye via internet di Indonesia tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Sekalipun mungkin jumlah pengguna internet yang masih terbatas (sekitar 25 juta orang), namun dari sisi pengguna mereka adalah pihak yang berada di level menengah ke atas. Artinya mereka ini yang termasuk memiliki tingkat pendidikan dan kesejahteraan yang relative baik. Sehingga berbekal pendidikan yang baik tersebut, diasumsikan mereka juga memiliki kadar kekritisan yang relative baik.</p>
<p>Kekritisan yang dimiliki pengguna internet ini penting sebab diharapkan dapat menjadi modal bagi penggerak partisipasi publik, khususnya via internet. Seperti yang dilakukan oleh Usman Yasin, dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu, yang membuat halaman pendukung Bibit-Chandra tersebut pada hari yang sama ketika Bibit dan Chandra mulai ditahan polisi.</p>
<p><strong>Kemenangan psikologis</strong><br />
Tercapainya angka satu juta facebooker dukung Bibit-Chandra, bahkan terakhir kali penulis mengecek halaman facebook “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah &amp; Bibit Samad Riyanto” pada minggu (8/11) pukul 17.30, jumlah anggotanya mencapai 1.103.991, terdapat satu makna mendalam. Terlampauinya angka satu juta pendukung Bibit-Chandra dapat dikatakan sebagai kemenangan psikologis. Kemenangan bahwa suara rakyat tak akan pernah tumbang dan apa yang dicita-citakan rakyat pasti tercapai. Dukungan yang besar semacam ini juga merefleksikan besarnya dukungan rakyat untuk penegakan keadilan dan pemberantasan korupsi di negeri ini.</p>
<p>Dukungan via internet kini tidak dapat lagi dianggap sebagai angin lalu. Dukungan yang diberikan via internet merupakan bentuk dukungan yang benar-benar nyata. Hal ini seperti yang juga telah dibuktikan oleh Barack Obama yang memenangi pemilihan presiden di Amerika Serikat. Halaman penggemar Barack Obama di Facebook sampai sekarang mampu mengumpulkan 6,9 juta orang.</p>
<p>Kekuatan online semacam ini mendatang akan makin menunjukkan taringnya. Peranan golongan menengah sebagai pendorong dan penjaga demokrasi akan semakin berkibar.  Hal ini tentu membawa angin segar bagi iklim demokrasi kita.</p>
<p>Sebab benar, suara online adalah suara Tuhan. Lewat internet, rakyat kini meneriakkan kebenaran…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jarikata.net/2009/11/08/suara-online-adalah-suara-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://www.jarikata.net/2009/03/20/hello-world/</link>
		<comments>http://www.jarikata.net/2009/03/20/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 10:46:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jeka</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jarikata.net/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jarikata.net/2009/03/20/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
