Cakap-cakap bukan Cuap-Cuap
“Bah! Pasti sambel petis kamu nomer satu kan?!!”
Itu kalimat yang terngiang-ngiang di kepala setiap melihat promosi gaya legacy yang masih bertebaran di mana-mana sekarang ini.
Cuap-cuap adalah ngomong seenaknya sendiri. Tanpa mempedulikan lawan bicara, tanpa minta ijin, tanpa respek, kalau perlu dengan cara “memaksa” bahkan “menodong”.
Marketing gaya cuap-cuap ya sama saja artinya. Tanpa ampun memberondong konsumen dengan macam-macam
pesan promosi yang bikin eneg bahkan antipati dan alergi.
“Lama sekali iklannya sih…!!!” protes seorang kawan yang menyaksikan Take Me Out sambil kembali memencet remote memindahkan saluran televisi. Atau “yah…. iklan lagi!!!”
Ada yang pernah merasakan hal serupa?
Saya pun dulu waktu masih sering nonton tv iya. Jadi ilfil gara-gara scene acara dipotong seenaknya dan digantikan dengan antrian iklan yang panjangnya kayak gerbong kereta. Tapi sekarang “teriakan” semacam itu berkurang karena saya jarang nonton teve.
Tidak efektifnya marketing cuap-cuap yang sudah sampai waktu kematiannya itu dideskripsikan secara apik oleh pakar marketing Hermawan Kertajaya dan Waizly Darwin dalam rubrik New Wave Marketing di Kompas yang judulnya Berbincang Ketimbang Promosi.
Konsumen tidak sendirian ketika mereka menghindari bentuk promosi dari pemasar. Kita pun sebagai pemasar ketika melepaskan ‘topi’ kita sebagai pemasar, dan pulang ke rumah setelah bekerja di kantor, sebisa mungkin untuk ‘meloloskan diri’ dari jebakan pemasar lain yang berpromosi lewat berbagai media.
Bahkan pemasar sekalipun sudah “muak” dengan apa yang dilakukannya selama ini. Logika paling sederhananya, kalau pembuatnya saja sudah muak apalagi konsumennya.
Cuap-cuap bukan cakap-cakap
Satu yang saya ingin tekankan dari tulisan ini adalah ketika sudah bertransformasi ke marketing era New Wave tidak sampai kemudian ada kesalahan konsep. Khawatirnya kalau yang dikiranya sebagai conversation ibarat percakapan antara seorang guru dengan muridnya.
Maka benar seperti ditegaskan Pak Hermawan, untuk menciptakan conversation atau cakap-cakap itu, diperlukan kesejajaran posisi antara pemasar dan konsumen. Kalau bahasa pepatahnya “berdiri sama tinggi, lesehan sama rendah…”
Tapi kesejajaran saja tidak cukup. Satu lagi yang ingin saya tambahkan untuk menciptakan cakap-cakap yang sempurna. Selain dibutuhkan kesejajaran dimana tidak ada salah satu yang mendominasi, diperlukan pula adanya rasa kedekatan atau jenjang optimalnya adalah rasa kekeluargaan. Sebab puncak keintiman sebuah percakapan itu terjadi ketika sudah berada dalam balutan rasa kekeluargaan.
Ketika chemistry kekeluargaan sudah terjalin antara pemasar dan konsumen pastilah gayeng hasilnya. Kapanpun pemasar ingin menyampaikan pesan-pesan marketingnya akan disambut terbuka oleh konsumen. Hangat tanpa ada sekat.
Tapi sebaliknya, kalau masih ada yang enggan berubah, tohokan di awal tulisan ini pantas diucapkan bagi mereka yang memilih promosi seperti tukang obat di pasar yang nyerocos dan cuap-cuap seenaknya sendiri.